BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A.      Gambaran Umum Perusahaan

1.        Profil Singkat Perusahaan

PT.  Prima Jaya berdiri pada bulan September 1983 berdasarkan akte dengan nomor 09031902352 yang disahkan oleh Departemen Perdagangan. Perusahaan untuk pertama kalinya berkedudukan di Jalan Kebayoran Lama Pal No. 268, Jakarta Selatan yang sampai sekarang masih digunakan sebagai kantor pusat.

PT. Prima Jaya bergerak dalam bidang Automotive Component Manufacturing. Karena meningkatnya permintaan akan produk, maka pada bulan September 1994 PT. Prima Jaya membuka cabang dengan nama yang sama di Desa Cibuntu, Cibitung, Bekasi, Jawa Barat 17520, Indonesia. Saat ini perusahaan-perusahaan yang menjadi pelanggan PT. Prima Jaya antara lain yaitu: PT. Yamaha Indonesia Motor, PT. Indomobil Suzuki International, PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motor (Mitsubishi), PT. Kayaba Indonesia dan PT. Showa Indonesia Motor.

PT. Prima Jaya yang sampai sekarang memperkerjakan kurang lebih 400 karyawan pernah mendapatkan penghargaan dari para pelanggannya. Dengan tumbuhnya perusahaan pesaing yang sejenis dan dalam rangka menguatkan posisi

perusahaan serta meningkatkan pelayanan kepada konsumen, maka PT. Prima Jaya menjalin kerja sama dengan perusahaan-perusahaan distributor besar yang ada.

Data lainnya yang dapat diperoleh antar lain :
a.  Share Holders     :  Johannes Tedjapranatha
 Peter Ateng Gunawan
b.  Director               :  Johannes Tedjapranatha                                    

PT. Prima Jaya juga pernah memperoleh penghargaan dari pelanggannya, yaitu dari PT. Kramayudha Tiga berlian Motor untuk Contributing and Supporting Prodution Mitsubushi Car.

2.        Struktur Organisasi

Struktur organisasi PT. Prima Jaya dan uraian tugas dari masing-masing bagian yang terdapat dalam struktur organisasi adalah sebagai berikut :
a.    Director
Tugas pokoknya adalah :
§  Membina , mengawasi, mengkoordinir dan menyelenggarakan kegiatan perusahaan secara keseluruhan.
§  Melaksanakan policy umum perusahaan baik ke dalam maupun ke luar.
§  Mengambil keputusan-keputusan yang mengikat perusahaan, dengan rencana kerja dan batas-batas yang telah ditetapkan oleh anggaran perusahaan.
  
b.    Factory Manager
Bertugas mengkoordinir seluruh kegiatan pabrik yang dibantu oleh beberapa manajer yang terkait.

c.    Accounting Finance
Tugas pokoknya adalah :
§  Bertanggung jawab atas perencanaan, pengaturan, pengawasan, dan pengendalian keuangan perusahaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
§  Membuat neraca anggaran perusahaan untuk diajukan dan dimintakan persetujuan Direktur.

d.   Production Manager
Tugas pokoknya adalah :
§  Berkewajiban untuk menetapkan wewenang, tugas dan tanggung jawab secara rinci dan jelas bagi masing-masing tenaga kerja disertai dengan pengawasan atas pelaksanaannya.
§  Memeriksa laporan operasional pabrik dan menyampaikannya kepada atasannya.
§  Menganalisa laporan lembur pabrik atas efisiensi dan efektivitasnya.

Production Manager membawahi :
1.    Power Press
Memproses barang sesuai cetakan dan memproses bahan mentah menjadi barang setengah jadi.
2.    Welding
Pengelasan dari barang setengah jadi menjadi barang jadi.
3.    Machining
Proses pengeboran dan pencampuran dari bahan mentah menjadi barang setengah jadi sampai menjadi barang jadi.
4.    CNC (Computer Number Control)
Proses bubut dari bahan mentah menjadi barang setengah jadi.
5.    PPIC Manager
Tugas pokoknya adalah :
§  Merencanakan, mengkoordinir, mengarahkan dan mengawasi seluruh aktivitas PPIC (Production Planning Inventory and Control) untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin.
§  Mempersiapkan dan memeriksa Work Order (WO).
§  Melaksanakan training bagi bawahan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kerja di bagian PPIC.

PPIC Manager membawahi :
1.    Product Planning
Merencanakan produksi untuk jangka pendek yang meliputi persiapan bahan baku yang didasarkan atas master production schedule dari sales order yang ada.
2.    Inventory Control
Memeriksa dan mengontrol material atau bahan baku yang keluar atau pun yang masuk.
  
e.    QA / QC Manager
Tugas pokoknya adalah :
§  Memeriksa mutu atau kualitas, baik yang menyangkut bahan, proses produksi, dan hasil pekerjaannya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
§  Memberikan informasi dan analisa secepat mungkin apabila terjadi penyimpangan dari mutu standar.

QA / QC Manager membawahi :
1.    Quality Control
Secara rutin mengawasi pemeriksaan kualitas dan kuantitas terhadap hasil produksinya serta dapat menghentikan setiap pekerjaan atau proses produksi apabila terjadi penyimpangan.
2.    Quality Assurance
Mengumpulkan dan mengolah data statistik, mengadakan evaluasi serta memberikan saran-saran dan kesimpulan kepada manager.

f.     Technical Engineering Manager
Tugas pokoknya adalah :
§  Membuat flow process produksi standar untuk masing-masing produk.
§  Melakukan tes kelayakan yang meliputi konstruksi dan processing.

Technical Engineering membawahi :
1.    Design
Membuat sketsa atau gambar produk yang akan diproduksi mulai dari barang setengah jadi sampai barang jadi.

2.    Die Shop
Membuat cetakan plate dari bahan setengah jadi sampai menjadi barang jadi.

g.    Maintenance Manager
Maintenance manager melakukan perencanaan, koordinasi dan pemeliharaan mesin-mesin guna menunjang kelancaran produksi sesuai dengan rencana yang telah disusun.
Maintenance Manager membawahi :
1.    Mechanical atau Civil
Memperbaiki mesin-mesin yang rusak atau mati untuk memperlancar produksi.
2.    Electrical atau Utility
Memperbaiki system listrik yang rusak atau mati.

h.    Personnel manager
Personnel Manager mempunyai tugas untuk mengkoordinir seluruh kegiatan atau aktifitas karyawan di perusahaan.
Personnel Manager membawahi :
1.    General Affair
Mencari tambahan barang atau bahan yang kurang untuk proses produksi.
2.    Personnel
Menangani peralatan pelengkap tenaga kerja seperti baju kerja dan alat untuk keselamatan kerja.

 i.      Purchasing
Tugas pokoknya adalah :
§  Melakukan pembelian atau pemesanan bahan baku
§  Membuat arsip untuk setiap pemesanan bahan baku

3.        Produksi dan Proses Produksi

Bidang usaha yang ditangani oleh PT. Prima Jaya adalah bidang manufaktur pada produksi sparepart. Produk-produk yang dihasilkan yaitu bermacam-macam sparepart untuk kendaraaan bermotor, baik untuk mobil atau motor. Ada 328 macam sparepart yang dihasilkan. Jumlah produksi sparepart untuk masing-masing produk pada PT. Prima Jaya berdasarkan job order dari pesanan pelanggan. Satuan produk sparepart ini dihitung dalam satuan unit. Dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi hanya pada 5 produk yang dihasilkan dari bahan baku yang sama dan diproduksi secara bersama oleh perusahaan ke lima produk sparepart tersebut yaitu :
§  Head pipe, yaitu penahan As rangka tengah pada kendaraan mobil (diproduksi untuk PT. Mitsubishi Krama Yudha Motor).
§  Engine Bracket, yaitu penahan mesin (diproduksi untuk PT. Yamaha Indonesia Motor).
§  Bracket Cross Tube, yaitu untuk penahan rangka body mobil bagian bawah
(diproduksi untuk PT. Mitsubishi Krama Yudha Motor).
§  Pipe Assy, yaitu untuk dudukan tuas gigi pada mobil (diproduksi untuk
PT. Mitsubishi Krama Yudha Motor).

§  Bracket Colum Support, yaitu untuk dudukan pada kemudi mobil (diproduksi untuk PT. Mitsubishi Krama Yudha Motor).

a.    Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan dalam proses produksi adalah besi pipa STKM (Steel Tube Konstruction Machine) dan besi plat SPCC (Steel Plate Cold Coil).
Bahan baku ini dibeli dari PT. Iron Work Indonesia. Disamping bahan baku terdapat pula bahan pembantu, yaitu mur dan baut.

b.    Alat-alat Produksi
Alat-alat produksi yang digunakan PT. Prima Jaya dalam melakukan proses produksi adalah dengan menggunakan beberapa buah mesin yaitu : Mesin cutting, mesin pressing, mesin CNC (bubut) dan mesin welding (las).

c.    Proses Produksi
Proses produksi sparepart yang dilakukan oleh PT. Prima Jaya meliputi tahap-tahap sebagai berikut :
§  Pemotongan (cutting)
Pada tahap awal ini, besi pipa STKM dan besi plat SPCC dipotong sesuai dengan ukuran dan berat yang sesuai untuk masing-masing produk yang dikerjakan oleh mesin cutting.
§  Pencetakan (pressing)
Sesudah dipotong sesusi dengan ukuran produk yang ingin dihasilkan, maka berikutnya dicetak oleh mesin press yang memiliki cetakan untuk produk yang ingin dihasilkan.

§  Pembubutan (CNC)
Sesudah selesai dicetak pada besi pipa dan besi plat, maka berikutnya masuk dalam proses pembubutan oleh mesin bubut.
§  Pengelasan (welding)
Selesai dibubut lalu masuk dalam proses terakhir yaitu pengelasan pada besi pipa dan besi plat tersebut untuk disambung agar menjadi produk jadi.

B.       Analisa dan Pembahasan

1.        Klasifikasi Biaya

Klasifikasi biaya sangat diperlukan dalam pengembangan data biaya yang bermanfaat bagi manajemen untuk menentukan metode mana yang paling tepat dalam mengumpulkan dan mengalokasikan data biaya-biaya. Pada PT. Prima Jaya klasifikasi biaya-biaya yang dibuat adalah sebagai berikut:

a.    Biaya Pada Product Centre
Komponen biaya dalam product centre terdiri dari :
§  Biaya bahan baku
Investasi perusahaan dalam bahan baku biasanya merupakan bagian yang cukup besar sehingga menjadi unsur penting dalam menentukan biaya produksi dari barang yang dihasilkan. Dalam menghasilkan 5 produk gabungan ini, bahan baku yang dimaksud adalah besi pipa STKM (Steel Tube Konstruction Machine) dan besi plat SPCC (Steel Plate Cold Coil). Disamping bahan baku, terdapat pula bahan pembantu, yaitu mur dan baut. Pada setiap akhir periode akuntansi, bagian produksi perusahaan melaporkan jumlah pemakaian bahan baku, adapun jurnal pencatatannya adalah :
Dr. Barang dalam proses- Pipa STKM       Rp. xxx
Cr. Persediaan bahan baku- Pipa STKM    Rp. xxx
(Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku – Pipa STKM)
Dr. Barang dalam proses – Plat SPCC       Rp. xxx
Cr. Persediaan bahan baku – Plat SPCC    Rp. xxx
(Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan baku – Plat SPCC)
Pemakaian bahan pembantu pada PT. PRIMA JAYA untuk menghasilkan produk sparepart ini langsung dicatat sebagai biaya overhead pabrik dengan jurnal sebagai berikut :
Dr. Biaya overhead pabrik             Rp. xxx
Cr. Pemakaian bahan pembantu     Rp. xxx
(Jurnal untuk mencatat pemakaian bahan pembantu)
§  Biaya Tenaga Kerja Langsung
Dalam menghitung pembebanan biaya untuk tenaga kerja langsung pada           PT. Prima Jaya, yaitu dengan cara mencatat seluruh biaya tenaga kerja langsung untuk proses produksi secara keseluruhan.
Jurnal Pembebanannya adalah:
Dr. Barang dalam proses                Rp. xxx
Cr. Biaya tenaga kerja langsung     Rp. xxx
(Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya tenaga kerja langsung)
§  Biaya Overhead pabrik atau biaya produksi tidak langsung
Biaya overhead pabrik atau biaya produk tidak langsung merupakan biaya yang terjadi karena proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi yang tidak dapat diidentifikasikan atau dibebenkan langsung kepada produk. Biaya produk tidak langsung meliputi biaya tenaga kerja tidak langsung serta biaya produksi tidak langsung lainnya, seperti biaya penyusutan mesin-mesin dan biaya pemeliharaan mesin-mesin. Jurnal pencatatan biaya overhead pabrik yang dilakukan oleh PT. Prima Jaya yaitu :
Dr. Barang dalam proses                Rp. xxx
Cr. Biaya overhead pabrik             Rp. xxx
(Jurnal untuk mencatat pembebanan biaya overhead pabrik)

b.    Biaya Pada Service Centre
Komponen biaya pada service center meliputi biaya pada bagian distribusi, bagian personalia dan umum serta bagian perencanaan yang semuanya digabung menjadi satu dalam biaya perusahaan.

2.        Biaya Gabungan
Dalam PT. Prima Jaya yang menjadi biaya produk gabungan untuk 5 produk sparepart ini adalah biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Besarnya biaya gabungan (joint cost) tersebut adalah :
a.    Biaya tenaga kerja langsung Rp. 567.427.200.-
b.    Biaya overhead pabrik Rp. 945.214.800,-

3.        Perhitungan Harga Pokok Produksi Oleh Perusahaan
Penelitian ini akan dibatasi hanya pada 5 produk sparepart yaitu head pipe, engine bracket, bracket cross tube, pipe assy dan bracket colum support. Alasan pemilihan produk-produk tersebut karena 5 produk sparepart ini dihasilkan dari bahan baku yang sama dan diproduksi secara bersama-sama.
Data produksi untuk masing-masing produk sparepart pada tahun 2002 :
a.    Head Pipe sebanyak 250.800 unit
b.    Engine Bracket sebanyak 32.400 unit
c.    Bracket Cross Tube sebanyak 231.600 unit
d.   Pipe Assy sebanyak 180.000 unit
e.    Bracket Colum Support sebanyak 72.000 unit
Total jumlah unit yang diproduksi untuk 5 produk adalah 766.800 unit

Data penjualan untuk masing-masing produk sparepart pada tahun 2002 :
a.    Head Pipe sebanyak 248.700 unit dengan harga jual Rp 14.510,00,-/unit
b.    Engine Bracket sebanyak 32.400 unit dengan harga jual Rp 23.911,00,-/unit
c.    Bracket Cross Tube sebanyak 231.600 unit dengan harga jual Rp 8.682,00,-/unit
d.   Pipe Assy sebanyak 179.640 unit dengan harga jual Rp 9.264,00,-/unit
e.    Bracket Colum Support Sebanyak 70.788 unit dengan harga jual
Rp 4.312,00,-/unit

Perusahaan melakukan harga pokok produksi yang berbeda-beda untuk setiap jenis produksi, dikarenakan adanya perbedaan komposisi ukuran dan berat dalam penggunaan bahan baku.
Untuk 1 unit Head Pipe diperlukan bahan baku :
a.    Pipa STKM 0,527 kg
b.    Plat SPCC 0,182 kg


Untuk 1 unit Engine Bracket diperlukan bahan baku :
a.    Pipa STKM 0,791 kg
b.    Plat SPCC 0,603 kg
Untuk 1 unit Bracket Cross Tube diperlukan bahan baku :
a.    Pipa STKM 0,250 kg
b.    Plat SPCC 0,364 kg
Untuk 1 unit Pipe Assy diperlukan bahan baku :
a.    Pipa STKM 0,319 kg
b.    Plat SPCC 0,184 kg
Untuk 1 unit Bracket Colum Support diperlukan bahan baku :
a.    Pipa STKM 0,141 kg
b.    Plat SPCC 0,115 kg

Perhitungan Harga Pokok Produksi oleh perusahaan untuk setiap jenis produk adalah sebagai berikut :
a.    Head Pipe
b.    Engine Bracket
c.    Bracket cross Tube
d.   Pipe Assy
e.    Bracket Colum Support

4.        Pengalokasian Biaya Gabungan
Pengalokasian biaya gabungan yang terjadi di PT. Prima Jaya dapat dijabarkan sebagai berikut :

a.    Biaya Tenaga Kerja Langsung
Untuk perhitungan biaya tenaga kerja langsung digunakan presentase sebesar 9% atas biaya bahan baku yang terjadi untuk setiap pesanan. Angka  9 % ini didapat berdasarkan perbandingan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi pada periode sebelumnya dengan biaya bahan baku yang terjadi pada periode yang sama.

b.    Biaya Overhead Pabrik
Untuk perhitungan biaya overhead pabrik digunakan persentase atas biaya bahan baku yaitu sebesar 15 %. Persentase ini didapat berdasarkan perbandingan biaya overhead pabrik yang terjadi pada periode sebelumnya dengan biaya bahan baku yang terjadi pada periode yang sama.

5.        Perhitungan Harga Pokok Produksi Oleh Penulis
Sebelum melakukan perhitungan harga pokok produksi, maka perlu dilakukan alokasi biaya gabungan untuk tiap jenis produk dan perhitungan atas biaya bahan baku.

a.    Pengalokasian Biaya Produk Gabungan
Pengalokasian biaya gabungan yang dilakukan penulis adalah dengan menggunakan metode-metode yang telah dijelaskan sebelumnya.
1.    Alokasi Biaya Bahan Baku.
Pipa STKM
Head Pipe                              = 132.171,6 x Rp 18.969,00,-
= Rp 2.507.163.080,40,-

Engine Bracket                       = 25.628,4 x Rp 18.969,00,- 
= Rp 486.145.119,60,-
Bracket Cross Tube                = 57.900 x Rp 18.969,00,-
= Rp 1.098.305.100,00,-
Pipe Assy                                = 57.420 x Rp 18.969,00,-        
= Rp 1.089.199.980,00,-
Bracker Colum Support         = 10.152 x Rp 18.969,00,-                                
= Rp192.573.288,00,-
Total Biaya Gabungan Pipa STKM  Rp 5.373.386.568,00,-
 Plat SPCC
Head Pipe                              = 45.645,6 x Rp 4.850,00,-
= Rp 221.381.160,00,-
Engine Bracket                       = 19.537,2 x Rp 4.850,00,-
= Rp   94.775.420,00,-
Bracket Cross Tube                = 84.302,4 x Rp 4.850,00,-
= Rp 408.866.640,00,-
Pipe Assy                                = 33.120 x Rp 4.850,00,-             
= Rp 160.632.000,00,-
Bracker Colum Support         = 8.280 x Rp   4.850,00,-          
= Rp   40.158.000,00,-
Total Biaya Gabungan Plat SPCC  Rp 925.793.220,00,-
Total Biaya Gabungan Bahan Baku   Rp 6.299.179.788,00,-
Total Pemakaian Bahan Baku Pipa STKM dan Plat  SPCC dalam Satuan Kilogram  474.157,20 kilogram.
2.    Metode Nilai Jual atau Nilai Pasar
a.    Head Pipe
                                                =  Rp 2.728.144.357,33,-
b.    Engine Bracket
                                               =  Rp 580.784.679,95,-
c.    Bracket Cross Tube
Alokasi                                   =  Rp 1.507.407.732,95,-
d.   Pipe Assy
                                               =  Rp 1.250.096.254,00,-
e.    Bracket Colum Support
                                                    =  Rp 232.746.763,70,-
                                    
3.    Metode Satuan Kuantitas atau Unit Fisik
a.    Head Pipe
                                                      =  Rp 2.362.302.021,75,-
b.    Engine Bracket
                                                     =  Rp 600.025.128,01,- 
c.    Bracket Cross Tube
                                                =  Rp 1.889.159.299,62,-
d.   Pipe Assy
                                                =  Rp 1.202.824.164,60,-
e.    Bracket Cross Tube
                                                     =  Rp 244.869.173,88,-  

4.    Metode Biaya Rata-rata Satuan
                                                      =  Rp 13.285,00,-/kg    
a.    Head Pipe
Alokasi Biaya Gabungan      = 177.817,2 kg x Rp 13.285,00,-
                                                      = Rp 2.362.301.502,00,-
b.    Engine Bracket
Alokasi Biaya Gabungan      = 45.165,6  kg x Rp 13.285,00,-
                                                      = Rp 600.024.996,00,- 
c.    Bracket Cross Tube
Alokasi Biaya Gabungan      = 142.202,4 kg x Rp 13.285,00,-
                                                      = Rp 1.889.158.884,00,-
d.  Pipe Assy
Alokasi Biaya Gabungan      = 90.540  kg x Rp 13.285,00,-
                                                      = Rp 1.202.823.900,00,-
d.   Bracket Colum Support
Alokasi Biaya Gabungan      = 18.432  kg x Rp 13.285,00,-
                                                = Rp 244.869.120,00,-

5.    Metode Rata-rata Tertimbang
Hasil perhitungan sama dengan hasil dari perhitungan metode satuan kuantitas atau unit fisik.

Alokasi Biaya Tenaga Kerja Langsung
1.    Metode Nilai Jual atau Nilai Pasar
a.    Head Pipe
                                               =  Rp 245.749.981,10,- 
b.    Engine Bracket
                                               =  Rp 52.316.815,18,-  


c.    Bracket Cross Tube
   =  Rp 135.786.590,95,- 
d.   Pipe Assy
                                               =  Rp 112.608.092,00-  
e.    Bracket Colum Support
                                               =  Rp 20.965.720,76,-  
                             
2.    Metode Satuan Kuantitas atau Unit Fisik
a.    Head Pipe
                                               =  Rp 212.795.072,83,-  
b.    Engine Bracket
                                               =  Rp 54.049.985,84,-   
c.    Bracket Cross Tube
                                               Rp 170.174.595,39,-  

d.   Pipe Assy
                                             =  Rp 108.349.844,07,-  
e.    Bracket Cross Tube
                                             =  Rp 22.057.701,86,-

3.    Metode Biaya Rata-rata Satuan
                                                  Rp 1.196,71/kg  
a.    Head Pipe
Alokasi Biaya Gabungan     = 177.817,2 kg x Rp 1.196,71,-
                                           = Rp 212.795.621,41,-
b.    Head Pipe
Alokasi Biaya Gabungan     = 177.817,2 kg x Rp 1.196,71,-
                                           = Rp 212.795.621,41,-
c.    Engine Bracket
Alokasi Biaya Gabungan     = 45.165,6 kg x Rp 1.196,71,-
                                           = Rp 54.050.125,18,- 
d.   Bracket Cross Tube
Alokasi Biaya Gabungan     = 142.202,4 kg x Rp 1.196,71,-
                                             = Rp 170.175.034,10,-

e.    Pipe Assy
Alokasi Biaya Gabungan     = 90.540  kg x Rp 1.196,71,-
                                           = Rp 108.350.123,40,- 
f.     Bracket Colum Support
Alokasi Biaya Gabungan     = 18.432  kg x Rp 1.196,71,-
                                           = Rp 22.057.758,72,- 

4.    Metode Rata-rata Tertimbang
Hasil perhitungan sama dengan hasil dari perhitungan metode satuan kuantitas atau unit fisik.

Alokasi Biaya Overhead Pabrik
1.    Metode Nilai Jual atau Nilai Pasar
a.    Head Pipe
                                             =  Rp 409.367.966,92,- 
b.    Engine Bracket
                                             =  Rp 87.148.850,10,-
c.    Bracket Cross Tube
                                             =  Rp 226.192.003,84,- 


d.   Pipe Assy
                                             =  Rp 187.581.482,11,- 
e.    Bracket Colum Support
                                             =  Rp 34.924.497,01,-  

2.    Metode Satuan Kuantitas atau Unit Fisik
a.    Head Pipe
                                             =  Rp 354.471.996,07,-
b.    Engine Bracket
                                             =  Rp 90.035.949,20,-   
c.    Bracket Cross Tube
                                              =  Rp 283.475.212,60,-  
d.   Pipe Assy
                                              =  Rp 180.488.133,45,-  


e.    Bracket Cross Tube
                                             =  Rp 36.743.508,68,-

3.    Metode Biaya Rata-rata Satuan
                                                  =  Rp 1.993,46/kg
a.  Head Pipe
Alokasi Biaya Gabungan     = 177.817,2 kg x Rp 1.993,46,-
                                             = Rp 354.471.475,51,-
b.  Engine Bracket
Alokasi Biaya Gabungan     = 45.165,6 kg x Rp 1.993,46,-
                                             = Rp 90.035.816,98,-
c.  Bracket Cross Tube
Alokasi Biaya Gabungan     = 142.202,4 kg x Rp 1.993,46,-
                                           = Rp 283.474.796,30,-
d.  Pipe Assy
Alokasi Biaya Gabungan     = 90.540 kg x Rp 1.993,46,-
                                           = Rp 180.487.868,40,-
e.  Bracket Colum Support
Alokasi Biaya Gabungan     = 18.432 kg x Rp 1.993,46,-
                                           = Rp 36.743.454,72,-
  
4.    Metode Rata-rata Tertimbang
Hasil perhitungan sama dengan hasil dari perhitungan metode satuan kuantitas atau unit fisik. Berdasarkan perhitungan alokasi biaya produk gabungan, dengan menggunakan metode-metode alokasi biaya gabungan yang telah dibahas sebelumnya, didapat hasil yang sama untuk biaya per unitnya dengan menggunakan metode satuan kuantitas dan metode biaya rata-rata satuan (ada sedikit perbedaan karena pembulatan desimal) dan dalam perhitungan harga pokok produksi dengan menggunakan kedua metode tersebut didapat hasil yang sama pula, sehingga penulis hanya akan menggunakan salah satu metode dari kedua metode tersebut yaitu metode satuan kuantitas.

Perhitungan Harga Pokok Produksi Masing-masing Produk

Berdasarkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang telah dialokasikan menurut metode-metode alokasi biaya produk gabungan yang telah dibahas sebelumnya, maka dapat dihitung harga pokok produksi dari masing-masing produk.
1.    HEAD PIPE
a.    Metode Nilai Pasar
Bahan Baku             :     Rp 2.728.144.357,33 : 250.800 unit   = Rp 10.877,77,-
BTKL                      :     Rp 245.749.981,10 : 250.800 unit      = Rp      979,86,-
BOP                         :     Rp 409.367.966,92 : 250.800 unit      = Rp   1.632,25,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 13.489,88,-
  
b.    Metode Satuan Kuantitas atau Rata-rata Tertimbang
Bahan Baku             :     Rp 2.362.302.021,75 : 250.800 unit   = Rp  9.419,07,-
BTKL                      :     Rp 212.795.072,83 : 250.800 unit      = Rp     848,47,-
BOP                         :     Rp 354.471.996,07 : 250.800 unit      = Rp  1.413,37,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 11.680,91,-

2.  ENGINE BRACKET
a.  Metode Nilai Pasar
Bahan Baku             :     Rp 580.784.679,95 : 32.400 unit        = Rp 17.925,45,-
BTKL                      :     Rp 52.316.815,18 : 32.400 unit          = Rp   1.614,72,-
BOP                         :     Rp 87.148.850,10 : 32.400 unit          = Rp   2.689,78,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 22.229,95,-

b.  Metode Satuan Kuantitas atau Rata-rata Tertimbang
Bahan Baku             :     Rp 600.025.128,01 : 32.400 unit        = Rp 18.519,29,-
BTKL                      :     Rp 54.049.985,84 : 32.400 unit          = Rp   1.668,21,-
BOP                         :     Rp 90.035.949,20 : 32.400 unit          = Rp   2.778,88,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 22.966,38,-

3.  BRACKET CROSS TUBE
a.  Metode Nilai Pasar
Bahan Baku             :     Rp 1.507.407.732,95 : 231.600 unit   = Rp 6.508,67,-
BTKL                      :     Rp 135.786.590,95 : 231.600 unit      = Rp    586,30,-
BOP                         :     Rp 226.192.003,84 : 231.600 unit      = Rp    976,65 ,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 8.071,62,-

b.  Metode Satuan Kuantitas atau Rata-rata Tertimbang
Bahan Baku             :     Rp 1.889.159.299,62 : 231.600 unit   = Rp  8.157,00,-
BTKL                      :     Rp 170.174.595,39 : 231.600 unit      = Rp     734,78,-
BOP                         :     Rp 283.475.212,60 : 231.600 unit      = Rp  1.224,00 ,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 10.115,78,-

4.  PIPE ASSY
a.  Metode Nilai Pasar
Bahan Baku             :     Rp 1.250.096.254 : 180.000 unit        = Rp 6.944,98,-
BTKL                      :     Rp 112.608.092 : 180.000 unit           = Rp    625,60,-
BOP                         :     Rp 187.581.482,11: 180.000 unit       = Rp 1.042,12,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 8.612,70,-

b.  Metode Satuan Kuantitas atau Rata-rata Tertimbang
Bahan Baku             :     Rp 1.202.824.164,6 : 180.000 unit     = Rp 6.682,36,-
BTKL                      :     Rp 108.349.844,07 : 180.000 unit      = Rp    601,94,-
BOP                         :     Rp 180.488.133,45 : 180.000 unit      = Rp 1.002,71,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 8.287,01,-

5.  BRACKET COLUM SUPPORT
a.  Metode Nilai Pasar
Bahan Baku             :     Rp 232.746.763,70 : 72.000 unit        = Rp 3.232,59,-
BTKL                      :     Rp 20.965.720,76 : 72.000 unit          = Rp    291,19,-
BOP                         :     Rp 34.924.497,01 : 72.000 unit          = Rp    485,06,-
HPP/Unit                                                                                    = Rp 4.008,84,-

b.  Metode Satuan Kuantitas atau Rata-rata Tertimbang
Bahan Baku             :     Rp 244.869.173,88 : 72.000 unit        = Rp 3.400,96,-
BTKL                      :     Rp 22.057.701,86 : 72.000 unit          = Rp    306,36,-
BOP                         :     Rp 36.743.508,68 : 72.000 unit          = Rp    510,33,-
HPP/Unit                                                                                   = Rp 4.217,65,-

Dari perhitungan-perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan di atas, baik oleh perusahaan maupun oleh penulis dapat diketahui terdapat perbedaan antara perhitungan yang dilakukan oleh perusahaan dengan perhitungan yang dilakukan oleh penulis dengan menggunakan metode-metode alokasi biaya gabungan tersebut.

Tabel ini memperlihatkan perbedaan perhitungan harga pokok produksi masing-masing produk yang telah dilakukan di atas.

Tabel 4.1 Perbandingan Harga Pokok Produksi Masing–masing Produk
Harga Pokok Produksi

Perusahaan
Metode
Nilai Pasar
Metode Satuan
Kuantitas /
Rata-rata
Tertimbang
Head Pipe
Engine Bracket
Bracket Cross Tube
Pipe Assy
Bracket Colum Support
Rp 13.492,00,-
Rp 22.234,00,-
Rp   8.072,00,-
Rp   8.613,00,-
Rp.  4.009,00,-
Rp 13.489,88,-
Rp 22.229,95,-
Rp   8.071,62,-
Rp   8.612,70,-
Rp   4.008,84,-
Rp 11.680,91,-
Rp 22.966,38,-
Rp 10.115,78,-
Rp   8.287,01,-
Rp   4.217,65,-

Dari tabel perbandingan di atas, hasil perhitungan tersebut menunjukkan sebagai berikut :
a.    Metode Nilai Pasar atau Nilai Jual
Untuk Produk head pipe dan engine bracket terjadi penurunan harga pokok produksi, sedangkan untuk produk bracket cross tube, pipe assy dan bracket colum support harga pokok produksi menurut perusahaan sama dengan harga pokok produksi berdasarkan nilai pasar hanya berbeda pada pembulatan desimal keatas.
b.    Metode Satuan Kuantitas atau Rata-rata Tertimbang
Di dalam metode ini, penulis memperhatikan bahwa 5 produk sparepart ini tidak memiliki berat yang sama berdasarkan pemakaian kedua bahan baku, yaitu pipa STKM dan Plat SPCC. Untuk setiap produk, berat bahan baku yang digunakan berbeda-beda tidak ada yang sama, maka tidak adil bila diperhitungkan dari unit kuantitas produk. Juga harus memperhatikan tingkat jumlah produksi yang berbeda-beda untuk setiap produk. Berdasarkan hal ini maka penulis menghitung berdasarkan pemakaian bahan baku untuk setiap produk perpemakaian bahan baku untuk 5 produk tersebut.

Maka hasil harga pokok produksi yang dihitung berdasarkan metode satuan kuantitas yaitu untuk produk head pipe dan pipe assy terjadi penurunan harga pokok produksi sedangkan untuk produk engine bracket, bracket cross tube dan bracket colum support terjadi kenaikan harga pokok produksi (Kenaikan HPP > Penurunan HPP).



Berdasarkan perhitungan penulis dengan menggunakan metode-metode alokasi biaya gabungan tersebut, perusahaan dapat bebas memilih salah satu dari metode alokasi tersebut. Sebab masing-masing metode mempunyai keunggulan dan kelemahan tersendiri yang telah dibahas dalam BAB II.

Namun harga pokok produksi bukanlah penentu harga jual suatu produk, harga pokok produksi merupakan salah satu factor penentu harga jual, harga jual suatu produk lebih ditentukan dari permintaan dan penawaran pasar. Dalam perusahaan industri, harga merupakan salah satu unsur terpenting dalam menentukan posisi produk di pasar serta tingkat keuntungan bagi perusahaan. Harga jual biasanya ditentukan oleh jumlah permintaan pasar dimana faktor itu menentukan harga tertingi yang ditawarkan penjual, sedangkan seluruh biaya yang telah dikeluarkan merupakan batas terendah harga jual. Setiap perusahaan tentu saja menginginkan harga yang menutup biaya produksi dan biaya distribusi serta sejumlah keuntungan yang memadai bagi segala usaha dan resiko yang dihadapi oleh perusahaan.


harga jual yang bersaing dipasaran
 
Dengan kondisi ekonomi saat ini, merupakan suatu tantangan bagi manajemen perusahaan agar produk dapat bersaing dipasaran dengan harga yang bersaing. Konsep tradisional, yaitu harga jual = biaya + profit, sulit diterapkan sekarang ini. Konsep tersebut hanya merupakan patoka bagi perusahaan untuk menentukan biaya produksi dan profit yang diinginkan, dengan demikian diharapkan manajemen dapat merencanakan kegiatan perusahaan dengan baik dengan pengendalian biaya yang efektif dan efisien dalam meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup perusahaan dengan dapat menetapkan.

Comments

Popular posts from this blog

makalah dasar-dasar komputer

kliping tentang renang

Analisis cerpen juru masak karya damhuri muhammad