Kebudayaan provinsi sulawesi tengah
MAKALAH
KEBUDAYAAN
PROVINSI SULAWESI TENGAH
Disusun
Oleh :
Nama : NIa Aulia
Kelas : XI IPS3
Pelajaran : Seni Budaya
MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 PESAWARAN
KABUPATEN PEAWARAN
TP. 2014/2015
Segala puji
bagi Allah SWT Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan Makalah ini
dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan
sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini
disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu Pengetahuan tentang “Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tegah” yang saya
sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah SWT akhirnya Makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini
memuat tentang “Kebudayaan
Provinsi Sulawesi Tegah” yang sangat berguna untuk pengetahuan
dalam bidang komputer, khususnya pada penggunaan Makalah ini. Walaupun Makalah ini mungkin kurang
sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Semoga Makalah
ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun Makalah
ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Selanjutnya penulis berharap Makalah yang
sederhana ini bermanfaat. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya.
Kedondong, Maret 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ..................................................................................... i
KATA
PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR
ISI ................................................................................................. iii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.......................................................................
1
B.
Rumusan Masalah .................................................................. 1
BAB
II PEMBAHASAN
B. Pakaian
Adat Sulawesi Tengah ............................................. 6
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan ............................................................................ 10
B.
Saran ...................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pembangunan dan
pengembangan lingkungan hidup, penataan ruang dan pertanahan pada
suatu daerah yang di sesuaikan keadaan geografisnya adalah upaya kearah
perwujudan amanah tersebut. Tujuannya adalah agar pengelolaan dan pendayagunaan
sumber alam dilakukan secara terencana, rasional, optimal,
bertanggung jawab serta sesuai dengan potensi dan kemampuan
dayadukungnya. Pembangunan lingkungan hidup, penataan ruang,
dan pertanahan dalam suatu daerah sesuai dengan amanah
GBHN 1993 diselenggarakan untuk meningkatkan penataan dan pelestarian fungsi
lingkungan hidup sesuai daya dukung, potensi dan keseimbangan pemanfaatan sumber
daya alam, serta pengendalian yang handal dan konsisten terhadap
pemanfaatan ruang dan sumber daya alam. Dengan demikian pembangunan dapat
diselenggarakan secara berkelanjutan, tertib, efisien, dan efektif.
Pembangunan
lingkungan hidup diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup
dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan
dan upaya pembangunan nasional untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan.
B.
Rumusan
Masalah
2. Pakaian
Adat Sulawesi Tengah
BAB II
PEMBAHASAN
Propinsi Sulteng atau Sulawesi
Tengah ternyata juga memiliki kekayaan budaya yang patut di banggakan di negeri
tercinta ini. Banyak sekali warisan budaya Sulawesi Tengah yang wajib di
lestarikan misalnya tarian daerah dan alat musik daerah. Dengan mengenal
kebudayaan daerah yang ada, diharapkan generasi penerus bangsa akan lebih
mencintai kebudayaan Indonesia sendiri ketimbang kebudayaan asing. Banyaknya
seni kebudayaan Sulawesi Tengah yang menjadi bagian dari kebudayaan nasional
Indonesia.
1. Puree
Alat
musik puree berbentuk seperti garpu tala, alat musik ini berfungsi sebagai alat
hiburan diwaktu senggang dan dapat pula digunakan sebagai alat perkenalan atau
pergaulan antar anggota kelompok masyarakat. Alat ini dapat dimainkan dengan
cara berdiri maupun duduk. Alat musik ini dapat dimainkan dengan cara
dipukul-pukulkan pada telapak tangan kanan ataupun kiri. Alat musik ini biasanya
berwarna kecoklatan sesuai dengan warna bambu yang sudah kering. Alat musik ini
terbuat dari bahan buluh tui dan rotan.
2. Marawasi
Alat
musik ini digunakan untuk mengiringi tari Jepeng, bersama alat musik lainya
seperti gambus dan biola. Alat musik ini dimainkan dengan cara duduk bersila di
atas kursi. Sebelum memainkan alat ini tali yang berada di bagian tengah
dimasukkan ibu jari, kemudian alat ini diputar-putar sehingga keras sekali pada
ibu jari. Sedangkan tangan yang lainnya memukul-mukul pada bagian kulit yang
direntangkan pada salah satu sisi. Alat musik ini biasanya terbuat dari kayu,
kulit kambing, rotan. dan berbentuk bulat panjang.
3. Rabana
Alat
musik rabana dimainkan sama dengan rebana yaitu dipukul pada bagian yang
terbuat dari kulit. Alat musik ini berfungsi sebagai hiburan musik pada waktu
Maulid Nabi Muhammad SAW dan pada waktu mengantarkan pengantin lelaki bersama
dengan sanak saudara yang diiringi syair-syair yang indah. Alat musik ini
biasanya terbuat dari bahan kayu nangka, kulit, rotan bulat, dan paku.
Alat
musik ini biasanya dimainkan dalam sebuah grup yang terdiri dari 9 - 10 orang
anggota. Para pemain menggunakan sarung Donggala, kemeja lengan panjang dan
kopiah hitam. Biasanya alat musik ini dimainkan dengan posisi duduk dan
melingkar, namun ketika mengantar pengantin dilakukan dengan cara sambil
berjalan.
4. Tadilo
Tadilo
berbentuk bulat dan panjang, warna kekuning-kuningan (seperti bambu kering).
Alat musik ini terbuat dari bahan bambu, kayu, dan rotan. Alat musik ini
berfungsi sebagai penghibur dan penghilang kesunyian malam. Cara memainkanya
dengan cara dipegang dengan salah satu tangan dalam posisi ditidurkan. Pemainya
dapat dalam posisi duduk bersila atau dengan cara yang lain. Tangan yang
lainnya memukul-mukul tali senar yang ada pada alat musik tersebut.
5. Mbasi-Mbasi
Alat
musik ini berbentuk bulat seperti seruling, terbuat dari bahan buluh tui dan
rotan. Alat musik ini berfungsi sebagai alat hiburan dan dapat dimainkan
bersama alat musik yang lain seperti gendang, kecapi, puree, dan yang lainnya.
Cara memainkan alat musik ini dengan cara meletakan peniup di bibir dan jari
tangan kanan dan kiri masing-masing jari telunjuk dan jari manis menutup
lubang-lubangnya. Sedangkan kedua ibu jari berfungsi sebagai penahan di bagian
bawah.
6. Tulalo
Tulalo
memiliki bentuk hampir sama dengan puree, yaitu seperti garpu tala. Alat musik
ini berfungsi sebagai hiburab semata. Alat musik ini terbuat dari buluh tui dan
rotan. Cara memainkanya cukup hanya digenggam dengan salah satu tangan, dan ibu
jari menutup lubang, kemudian alat musik dipukul-pukulkan pada tangan yang
lain, sebagian kaki. Sambil memukul-mukulkan Tulalo diiringi dengan senandung
yang berisi syair-syair. Untuk mengubah bunyi yang dihasilkan dengan cara
membuka dan menutup lubang dengan ibu jari.
7. Gimba
Gimba
atau gendang berbentuk bulat dan panjang, alat musik ini terbuat dari kayu,
kulit Anoa atau kulit sapi atau kulit kerbau dan rotan. Alat musik ini
digunakan untuk mengiringi tari-tarian pada upacara Balia, dan juga sering
digunakan untuk pertandingan atau latihan pencak silat. Alat musik ini
dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan, ada pula yang dipukul
menggunakan alat pemukul yang terbuat dari kayu atau rotan. Kedua tangan yang
memukul Gimba saling berbalasan dan bervariasi sehingga menimbulkan suara yang
berirama sesuai gerakan tarian.
8. Lalove
Lalove
berbentuk bulat panjang seperti suling dan terbuat dari bambu. Panjang alat
musik ini sekitar alove adalah alat kesenian jenis tiup (suling) yang awalnya
berfungsi sebagai alat pengiring Tarian Tradisional Balia disamping alat lain
seperti gendang. Tari tradisional yang di sebut Balia, merupakan ritual
penyembuhan pada suku Kaili di Sulawesi Tengah.
dengan cara ditiup. Pada mulanya
alat musik ini tidak sembarangan boleh ditiup karena bagi sebagian orang yang
sering kerasukan roh akan spontan kerasukan jika mendengar suara alat musik
ini. Lalove berfungsi sebagai alat pengiring Tarian Tradisional Balia disamping
alat lain seperti gendang. Tari tradisional yang di sebut Balia, merupakan
ritual penyembuhan pada suku Kaili di Sulawesi Tengah. Lalove memiliki
peran yang sangat penting dalam upacara penyembuhan, sebab jika irama yang
dimainkan salah akan mengakibatkan para penari yang sudah kerasukan akan marah.
Namun sekarang alat musik tersebut sudah banyak digunakan untuk mengiringi
tarian tradisional yang dikreasikan.
9.
Santu
Alat
musik ini terbuat dari kayu, bambu, dan rotan dan berbentuk bulat panjang
(bentuk bambu). Alat musik ini dimainkan dengan cara dipetik atau dipukul dalam
posisi duduk bersila. Tangan kiri memegang alat pada bagian tengah dengan
posisi miring atau ditidurkan diatas kaki (paha) dan tangan kanan memetiknya,
atau dipukul-pukul dengan kayu bulat yang kecil. Alat ini berfungsi sebagai
alat untuk penghibur pelepas lelah dikala senggang, atau pengisi waktu ambil
bersenandung. Disamping itu alat ini juga sebagai alat komunikasi diantara para
anggota kelompok sosial
B.
Pakaian
Adat Sulawesi Tengah
Wilayah
provinsi Sulawesi Tengah sebelum jatuh ke tangan Pemerintahan Hindia Belanda
merupakan sebuah Pemerintahan Kerajaan yang terdiri atas 15 kerajaan di bawah
kepemimpinan para raja yang selanjutnya dalam sejarah Sulawesi Tengah dikenal
dengan julukan Tujuh Kerajaan di Timur dan Delapan Kerajaan di Barat.
Pakaian
Adat dan Pakaian Perkawinan merupakan cermin dari adat istiadat berpakaian dari
sebuah kerajaan, pada mulanya pakaian khusus di pakai keluarga kerajaan,
kemudian rakyat atau masyarakat meniru pakaian tersebut, hingga keluarga
kerajaan membuat mode yang lainnya. Sahabat GPS Wisata Indonesia, akan diketengahkan
pakaian adat dari empat Kabupaten yaitu Banggai, Donggala, Morowali dan
Toli-toli.
1.
Macam Pakaian
Adat Suku Saluan

Suku saluan merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang
mendiami kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Masyarakat suku saluan memiliki
sebutan khas “loinang” yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai
orang gunung. Berbeda dengan masyarakat suku kaili yang menggunakan baju
nggembe dan puruka pajana sebagai pakaian adat, masyarakat suku saluan memiliki
pakaian adat tersendiri yang khusus dikenakan pada upacara tumpe. Tumpe
merupakan salah satu rangkaian upacara adat yang disakralkan oleh masyarakat
Loinang dan hanya diadakan pada acara khusus seperti upacara pernikahan, upacara
penyambutan tamu dan upacara pelepasan Burung Maleo.

2. Pakaian Adat Kaum Pria Saluan
Pakaian yang
dikenakan oleh kaum pria dalam adat saluan yaitu berupa kemeja pria yang
dikenal dengan nama pakean nu’moane. Pemakaian kemeja ini biasa dipadukan dengan
celana panjang yang disebut koja dalam bahasa saluan. Ditambahkan pula
penggunaan sungkup nu’ubak sebagai penutup dibagian kepala, serta sarung (lipa)
sebagai pelengkap celana panjang.

3. Pakaian Adat Kaum Wanita Saluan
Sementara pakaian
adat yang dikenakan oleh kaum wanita dalam upacara adat tumpe yaitu berupa baju
sungkup nu’ubak berwarna merah jambu yang dipadukan dengan ikat pinggang warna
hitam serta rok mahantam berwarna merah jambu bercorak belang-belang. Sebagai
pelengkap ditambahkan pula pengunaan aksesoris berupa kalung atau kalong,
gelang atau potto, anting atau sunting, jaling, serta selempang atau
salandoeng.
4. Macam Pakaian Adat Suku Kaili

Suku Kaili merupakan sebutan bagi masyarakat Sulawesi Tengah
yang secara turun temurun mendiami wilayah Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi,
dan Kota Palu. Secara etimologi kata Kaili diambil dari nama pohon dan buah
Kaili yang umumnya tumbuh di kawasan hutan-hutan di tepi Sungai Palu dan Teluk
Palu. Sebagaimana suku bangsa lain di tanah air, suku kaili juga dikenal kaya
akan budaya dan adat istiadat serta tradisi yang menyakut berbagai aspek
kehidupan dan masih terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat
sehari-hari sampai saat ini. Disamping itu masyarakat kaili juga memiliki pakaian
adat tersendiri yang dibedakan untuk kaum pria dan kaum wanita.
5.
Pakaian Adat
Wanita Kaili
Pakaian adat yang
dikenakan oleh kaum wanita dari suku kaili di kota palu dikenal dengan nama
baju nggembe, semetara pakaian adat yang digunakan oleh kaum pria disebut baju
koje/puruka pajana.

Sebagai salah satu daerah di Nusantara yang memiliki
beragam kekayaan budaya leluhur, Sulawesi Tengah memiliki berbagai jenis
tari-tarian tradisional yang diwariskan turun temurun. Beberapa kabupaten
memiliki tarian tersendiri yang berbeda dengan daerah kabupaten lainnya, namun
beberapa diantaranya telah menjadi tarian khas Sulawesi tengah, yang kerap
ditampilkan saat pertunjukan seni ataupun dalam penjemputan tamu-tamu daerah,
berikut jenis-jenis tarian tersebut beserta penjelasannya.
1. Tari Pomonte
Tarian ini
merupakan salah satu tarian Sulawesi tengah yang sangat popular, baik di
tingkat nasional maupun mancanegara. Karenanya tarian ini sangat sering
ditampilkan dalam berbagai acara baik yang sifatnya resmi maupun tidak.
2. Tari Pontanu
Tari Pontanu, atau
tarian penenun dari Donggala merupakan tarian khas dari kabupaten Donggala,
tarian ini menggambarkan bagaimana para perempuan-perempuan di Donggala dalam
menenun sarung donggala, sarung donggala adalah sarung sutera tenunan tangan
asli yang dikerjakan para perempuan donggala.
3. Tari Peule Cinde
Tarian ini adalah
prosesi penyambutan tamu agung dimana setiap tamu agung yang berkunjung
disuguhi oleh tarian ini dan ditaburkan bunga-bungaan oleh para
gadis-gadis penari yang cantik.
4. Tarian Dero
Tari ini berasal
dari tanah Poso, melambangkan sebuah ungkapan sukacita dari masyarakat
Poso khususnya mereka yang mendiami daerah sepanjang lembah Danau Poso.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
letak geografis Provinsi Sulawesi Tengah, maka terdapat potensi-potensi
dari berbagai sektor, seperti sektor pertanian dan
perkebunan, sektor pertambangan, sektor perikanan serta sektor peternakan
yang masing-masing terdapat di kota maupun di kabupaten sebagai sarana
yang dapat mendukung perkembangan lingkungan hidup Sulawesi tengah
dengan baik yang di lakukan secarah berkesinambungan.
B.
Saran
Dengan adanya
berbagai potensi di daerah Sulawesi Tengah, diharapkan kepada pemerintah dan
seluruh masyarakat Sulawesi Tengah untuk lebih berperan aktif dalam mengelola
dan mengembangkan potensi-potensi yang ada sehingga potensi tersebut
dapat mendorong pengembangan lingkungan di wilayah itu.
DAFTAR
PUSTAKA
![]() |


Comments
Post a Comment