Pakaian adat padang
MAKALAH
PAKAIAN ADAT PADANG
Disusun
Oleh :
Nama : Rohani
Kelas : XI IPS3
Pelajaran : Seni Budaya
MADRASAH ALIYAH NEGERI 1 PESAWARAN
KABUPATEN PEAWARAN
TP. 2014/2015
Segala puji
bagi Allah SWT Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan Makalah ini
dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan
sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini
disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu Pengetahuan tentang “Pakaian Adat Padang” yang saya
sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah SWT akhirnya Makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini
memuat tentang “Pakaian
Adat Padang” yang sangat berguna untuk pengetahuan dalam bidang
komputer, khususnya pada penggunaan Makalah ini. Walaupun Makalah ini mungkin kurang
sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Semoga Makalah
ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun Makalah
ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Selanjutnya penulis berharap Makalah
yang sederhana ini bermanfaat. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya.
Kedondong, April 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
HALAMAN
JUDUL ..................................................................................... i
KATA
PENGANTAR .................................................................................. ii
DAFTAR
ISI ................................................................................................. iii
BAB
I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.......................................................................
1
B.
Rumusan Masalah .................................................................. 1
BAB
II PEMBAHASAN
A.
Pakaian Adat Padang ............................................................ 2
BAB
III PENUTUP
A.
Kesimpulan ............................................................................ 9
DAFTAR PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Sebagai
masyarakat Indonesia, kita harus mengetahui berbagai macam kebudayaan yang ada
di negara kita. Indonesia terdiri dari banyak suku dan budaya, dengan mengenal
dan mengetahui hal itu, masyarakat Indonesia akan lebih mengerti kepribadian
suku lain, sehingga tidak menimbulkan perpecahan maupun perseteruan.
Pengetahuan tentang kebudayaan itu juga akan memperkuat rasa nasionalisme kita
sebagai warga negara Indonesia yang baik.
Selain hal-hal
di atas, kita juga dapat mengetahui berbagai kebudaya di Indonesia yang
mengalami akulturasi. Karena proses akulturasi yang terjadi tampak simpang siur
dan setengah-setengah. Contoh, perubahan gaya hidup pada masyarakat Indonesia
yang kebarat-baratan yang seolah-olah sedikit demi sedikit mulai mengikis
budaya dan adat ketimurannya. Namun, masih ada beberapa masyarakat yang masih
sangat kolot dan hampir tidak mempedulikan perkembangan dan kemajuan dunia luar
dan mereka tetap menjaga kebudayaan asli mereka.
Karena latar
belakang di atas kita menyusun makalah tentang salah satu kebudayaan masyarakat
Indonesia, yaitu masyarakat Minangkabau. Makalah ini akan memberikan wawasan
tentang masyarakat Minangkabau yang memiliki keragaman suku dan budaya.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Membahas mengenai Pakaian Adat
Padang
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pakaian Adat Padang

Sandang
adat Padang merupakan salah satu kekayaan budaya milik masyarakat Sumatra
Barat. Secara luas, juga menjadi kekayaan budaya milik Indonesia. Sandang adat
dan elemen-elemen lain nan berbau adat tradisional, menjadi bukti diri dari
sekelompok orang tertentu. Orang-orang di luar sekelompok orang tersebut tak
berhak mengakui, sebab ini sudah berhubungan dengan bagian dari kehidupan orang
lain.
Maka dari
itu, tak heran jika beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia meradang dengan
rentetan pengakuan negara tetangga terhadap beberapa barang atau benda
kebudayaan milik Indonesia . Karena ini sama saja dengan mengakui barang nan
bukan miliknya. Bukan kah itu sesuatu nan menjengkelkan? Ya bandingkan saja
dengan barang atau hasil karya Anda nan diakui oleh orang lain. Apa nan
dirasakan? Rasanya tak jauh berbeda.
Pakaian
adat juga merupakan salah satu benda kebudayaan nan keberadaannya harus tetap
dilestarikan. Sandang adat suatu daerah erat berkaitan dengan baju buat
menyelenggarakan pesta pernikahan. Faktanya, memang demikian. Pernikahan ,
terutama pernikahan adat, merupakan salah satu acara nan baju adat banyak
digunakan oleh masyarakat di sepanjang acara.
Senasib
dengan baju adat daerah lain, pakain adat Padang juga demikian. Sandang adat
Padang digunakan, salah satunya, pada acara pernikahan tradisional Padang.
Acara pernikahan adat, seperti sebuah citra tentang bagaimana indahnya adat
kebudayaan milik Indonesia. Selain baju adat, Anda akan menemukan beberapa
ritual menarik, makanan tradisional hingga dekorasi nan sifatnya juga
tradisional.

Kesakralan
dalam upacara adat, salah satunya pernikahan adat memang tak dapat digantikan
dengan apapun. Keberadaan baju adat nan identik dengan serba ribet dan menyulitkan
justru ialah seni dari sebuah budaya itu sendiri. Tidak berbeda jauh ketika
membicarakan baju adat Padang, khususnya baju pernikahan. Anda nan kebetulan
berasal dari Sumatra Barat niscaya mengerti dan tahu rasanya mengenakan baju
tersebut.
Namun,
baju adat Padang memang bukan hanya berkenaan dengan baju nan dikenakan ketika
resepsi pernikahan. Ada jenis baju adat lain nan sifatnya lebih generik tanpa
mengurangi nilai-nilai budaya nan terkandung di dalamnya. Seperti nan akan
dibahas berikut ini!
1. Pakaian Adat Padang buat Wanita
Pakaian
adat khas Padang nan dikenakan mempelai wanita terdiri atas:
a. Limpapeh Rumah Nan Gadang
Masyarakat
Padang memiliki sistem patrilineal . Dalam sistem ini, garis keturunan di ambil
dari garis ibu. Oleh karenanya, wanita memiliki peran nan sangat penting. Jika
diibaratkan, wanita ialah tiang dari sebuah bangunan. Sandang adat Padang buat
wanita pun tak luput dari filosofi ini. Namanya ialah Limpapeh Rumah Nan
Gadang. Limpapeh sendiri dalam bahasa Padang artinya tiang tengah. Terletak di
tengah bangunan dan berfungsi sebagai penyangga tiang-tiang lain. Apabila,
limpapeh ini ambruk, akan ambruk pula tiang lain. Ini bisa diartikan bahwa
wanita dalam adat Padang merupakan tiang kokoh dalam sebuah rumah. Bentuk dari
Limpapeh Rumah Nan Gadang ini berbeda di setiap nagari.
b. Baju Batabue
Dalam
bahasa Indonesia, artinya kurang lebih pakaian bertabur. Yang bertabur di atas
pakaian tersebut ialah benang emas. Sandang nan ditaburi benang emas ini
menandakan kekayaan nan dimiliki oleh Tanah Minang. Corak serta bentuk dari
taburan benang emas ini tak selalu sama pada setiap baju adat, dapat
dimodifikasi sinkron dengan kekreatifan pembuat baju.
c. Minsie
Namaya
mungkin terdengar lucu, minsie, tetapi makna filosofi nan terkandung di
dalamnya cukup menjad pelajaran berharga. Minsie ialah bagian pinggir dari
pakaian nan juga diberi benang emas. Menandakan bahwa masyarakat Minangkabau
ialah masyarakat nan demokrasi , meski demikian, ada batasan eksklusif nan
sinkron dengan lingkungan.
d. Tingkuluak
Ada
sesuatu nan khas dari baju adat wanita Padang, yakni hiasan kepala nan
bentuknya bercabang dan runcing . Mereka beranggapan bahwa Limpapeh Rumah Nan
Gadang tak boleh menanggung sebuah beba nan cukup berat.
e. Lambak
Lambak,
dalam istilah sehari-hari dikenali sebagai sarung. Sarung khas Padang dan biasa
digunakan oleh para wanitanya dapat berupa songket tenunan atau nan lain.
Sarung dianggap sebagai busana nan cukup sopan. Mengenai cara pemakaian,
disesuaikan dengan adat di masing-masing daerah.
f. Salempang
Salempang
sebagai bagian dari baju adat Padang nan spesifik buat wanita memiliki filosofi
nan cukup dalam. Yaitu, citra tentang tanggung jawab Limpapeh Rumah Nan Gadang
terhadap keturunannya, serta harus waspada terhadap apapun, baik buat saat ini
maupun masa nan akan datang. Keenam jenis baju adat Padang nan dikhususkan bagi
para wanita tersebut, sangat akrab dengan kehidupan masyarakat Padang. Jika
sudah membahas menganai baju adat wanita, tak lengkap rasanya jika tak membahas
mengenai baju adat lelaki Minangkabau. Untuk itu, berikut ini informasinya buat
Anda.
2. Pakaian Adat Padang buat Pria
Dalam
berbagai kebudayaan, pria identik memegang jabatan sebagai pemangku adat, sama
halnya dengan nan terjadi pada masyarakat Padang. Oleh sebab itu, bahasan mengenai
baju adat Padang spesifik pria ini tak jauh-jauh dari baju kebesaran seorang
pemangku adat. Dalam adat Minang , baju kebesaran disebut juga dengan baju
penghulu. Yang artinya tak semua orang dapat menggunakannya, dan juga tak dapat
digunakan secara sembarangan. Sandang penghulu hanya digunakan ketika ada
acara-acara tertentu. Sandang penghulu merupakan sebuah kesatuan, nan di
dalamnya terdapat bermacam elemen. Apa saja?
a. Destar
Destar
atau Deta merupakan hiasan kepala. Berdasarkan bentuknya, Destar dibedakan atas
daerah loka tinggal pemangku adat. Secara umum, Destar memiliki kerut, kerut
tersebut menandakan banyaknya undang-undang atau anggaran nan harus diketahui
oleh seorang pemangku adat. Juga menandakan akal budi seorang pemangku adat.
Jika
bagian berkerut tersebut dikembangkan atau ditarik, kerut akan berubah melebar.
Pemangku adat harus dapat melaksanakan tugasnya dengan baik sampai ke bagian
nan paling kecil. Selain itu, kerutan pada Destar ini juga menandakan bahwa
sebagai pemangku adat, hendaknya mengerutkan kening terlebih dahulu, maksudnya
berpikir, sebelum berbicara atau bertindak.
b. Baju
Warna
hitam merupakan rona dominan pakaian pemangku adat. Berhubungan dengan ini, ada
sebuah kalimat dalam bahasa Padang nan berbunyi, “hitam tahan tapo, putiah
tahan sasah”, artinya pemangku adat harus dapat menerima umpatan dan pujian.
Pada bagian lengan pakaian dihiasi benang makau. Juga ada benang besar nan
diapit oleh benang-benang kecil. Menandakan bahwa orang besar, akan selalu
memiliki pengiring. Selain itu, ada makna filosofis lain nan terkandung dalam
pakaian khas penghulu nan berwarna hitam ini, yakni, seorang penghulu harus
memiliki pendirian nan kokoh. Tidak boleh mudah goyah, baik wibawa maupun
perihal kepemimpinannya. Seorang penghulu harus tetap bijaksana dalam
menjalankan kepemimpinannya.
c. Sarawa
Sarawa
merupakan celana berpipa besar. Berpipa besar maksudnya, lingkaran pada celana
adat ini cukup besar. Bentuk nan besar tersebut melambangkan kebesarannya atau
kekuasaannya dalam memenuhi segala tuntutan masyarakat. Nantinya, hal tersebut
dapat menjadi contoh bagi masyarakat itu sendiri.
d. Sasampiang
Sesamping
ini berupa kain berwarna merah nan melambangkan keberanian. Sasampiang juga
dihiasi dengan benang warna-warni sebagai perwujudan ilmu dan keberanian.
Benang berwarna-warni tersebut akan memberikan estetika tersendiri, nan
bermakna atau melambangkan kekayaan hati seorang penghulu.
e. Cawek
Cawek
merupakan istilah dalam bahasa Padang buat menyebut ikat pinggang. Ikat
pinggang khas nan ada pada pakaia adat Padang ini dapat terbuat dari kain
sutera maupun kain biasa. Ukuran antara panjang dan lebar harus seimbang,
dengan jumbai di bagian ujungnya. Makna dari Cawek ini ialah seorang penghulu
diharuskan memiliki kecakapan buat mengendalikan seseorang, dalam hal ini dapat
kemenakannya atau siapa pun.
f. Sandang
Sandang
ialah kain berbentuk segi empat nan diselempangkan di bahu. Maknanya ialah
seorang penghulu bersedia buat menerima anak kemenakan nan telah ingkar namun
telah berubah sinkron dengan peraturan adat. Keenam baju adat Padang nan
dikhususkan buat pria ini memiliki filosofi nan berbeda dengan baju adat Padang
nan dikenakan oleh wanita. Meskipun demikian, keduanya memiliki nilai
kesakralan nan sama. Nilai kesakralan itu lah nan harus tetap dilestarikan oleh
masyarakat Padang dan masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sandang adat Padang merupakan salah satu kekayaan
budaya milik masyarakat Sumatra Barat. Secara luas, juga menjadi kekayaan
budaya milik Indonesia. Sandang adat dan elemen-elemen lain nan berbau adat
tradisional, menjadi bukti diri dari sekelompok orang tertentu. Orang-orang di
luar sekelompok orang tersebut tak berhak mengakui, sebab ini sudah berhubungan
dengan bagian dari kehidupan orang lain. Maka dari itu, tak heran jika beberapa
waktu lalu, masyarakat Indonesia meradang dengan rentetan pengakuan negara
tetangga terhadap beberapa barang atau benda kebudayaan milik Indonesia .
Karena ini sama saja dengan mengakui barang nan bukan miliknya. Bukan kah itu
sesuatu nan menjengkelkan? Ya bandingkan saja dengan barang atau hasil karya
Anda nan diakui oleh orang lain. Apa nan dirasakan? Rasanya tak jauh berbeda.
DAFTAR PUSTAKA
![]() |

Comments
Post a Comment